Pesantren Ekologi Ramadan di SMAN 2 Sukatani, Menyemai Iman dan Cinta Bumi Sejak Dini
Pendidikan    Rabu 04 Maret 2026    03:03:00 WIBSUKATANI – Bulan suci Ramadan tahun ini dimaknai berbeda oleh keluarga besar SMA Negeri 2 Sukatani. Sejak 23 Februari hingga 4 Maret 2026, sekolah tersebut menggelar Pesantren Ekologi Ramadan 1447 Hijriah sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter yang memadukan spiritualitas dan kepedulian lingkungan.
Program ini bukan sekadar pengayaan ibadah. Di tangan para pendidik, Ramadan menjadi ruang pembelajaran kontekstual—menghubungkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan aksi nyata menjaga bumi.
Kepala SMAN 2 Sukatani, Agus Saprudin, menjelaskan bahwa pesantren ini dirancang untuk menanamkan kesadaran bahwa merawat lingkungan adalah bagian dari ibadah.
“Pesantren Ekologi ini kami hadirkan agar siswa memahami bahwa merawat bumi adalah bagian dari ibadah dan wujud tanggung jawab sebagai khalifah di muka bumi,” ujarnya.
Memulai Hari dengan Spiritualitas
Setiap pagi, kegiatan dimulai pukul 06.30 WIB dengan sholat sunah Dhuha dan dzikir bersama. Suasana sekolah berubah lebih khusyuk. Lantunan tadarus Al-Qur’an menggema, disusul pembiasaan karakter melalui program Poe Ibu selama Ramadan.
Setelah fondasi spiritual diteguhkan, siswa mengikuti materi inti Pesantren Ekologi sebelum memasuki pembelajaran reguler.
“Pembiasaan ibadah di pagi hari menjadi pondasi utama. Kami ingin membentuk karakter siswa yang kuat secara spiritual sebelum mereka menerima materi akademik,” jelas Agus.
Dari Tadabur Alam hingga Aksi Nyata
Materi Pesantren Ekologi dikemas dalam beberapa pendekatan:
Tadabur Alam (Niti Harti)
Pendalaman Ekologi dalam Al-Qur’an (Niti Bukti)
Kajian Ayat-Ayat Ekologi
Niti Bakti, berupa aksi penanaman pohon dan gerakan hemat energi
Tak hanya itu, siswa juga terlibat dalam presentasi kelompok, Rantang Kanyaah, serta Gerakan Wakaf Al-Qur’an. Integrasi antara kajian ayat dan praktik langsung menjadi ciri utama program ini.
“Kami menggabungkan kajian ayat-ayat Al-Qur’an dengan aksi nyata seperti penanaman pohon dan hemat energi. Anak-anak belajar bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari nilai rahmatan lil ‘alamin,” tegasnya.
Implementasi Nilai Pancawaluya
Program ini juga menjadi implementasi nilai Pancawaluya dari Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat yang berakar pada kearifan lokal Sunda: cager, bageur, bener, pinter, dan singer. Kelima pilar tersebut diarahkan untuk membentuk manusia waluya—pribadi yang utuh secara lahir dan batin.
“Kami ingin melahirkan generasi yang sehat lahir batin, jujur, cerdas, dan terampil. Pesantren Ekologi menjadi salah satu jalan untuk mewujudkan itu,” tambah Agus.
Ekoteologi sebagai Jawaban Zaman
Pengawas Pendidikan Agama Islam, Dr. Yuni Asdhiani, menilai program ini sebagai langkah inovatif dalam penguatan pendidikan agama yang kontekstual.
Menurutnya, integrasi spiritualitas dan kepedulian lingkungan merupakan pendekatan relevan dengan tantangan global saat ini.
“Kegiatan ini sangat baik karena mengajarkan siswa bahwa agama tidak hanya berbicara tentang ritual, tetapi juga tanggung jawab sosial dan ekologis,” ujarnya.
Ia menambahkan, pendekatan ekoteologi yang diterapkan sekolah sejalan dengan penguatan moderasi beragama dan kesadaran lingkungan.
“Ekoteologi mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari ketaatan kepada Allah. Ketika siswa memahami ini, mereka akan tumbuh dengan kesadaran spiritual dan kepedulian sosial yang seimbang,” katanya.
Dr. Yuni juga mengapresiasi kesinambungan pembiasaan hingga ke rumah melalui program KAROMAH atau amaliyah Ramadan keluarga.
“Program ini tidak berhenti di sekolah, tetapi berlanjut di rumah. Sinergi inilah yang akan memperkuat pembentukan akhlak siswa,” ungkapnya.
Di tengah tantangan krisis lingkungan dan degradasi moral generasi muda, Pesantren Ekologi Ramadan di SMAN 2 Sukatani menghadirkan pesan sederhana namun mendalam: bahwa iman dan kepedulian terhadap bumi bukan dua hal yang terpisah.
Dari ruang kelas hingga halaman sekolah yang ditanami pohon, para siswa belajar satu hal penting bahwa menjadi insan beriman berarti juga menjadi penjaga kehidupan.***Samsudin
























