Dari Dapur Subang untuk Generasi Emas: Kolaborasi Hangat di Balik Program Makan Bergizi Gratis
Pemerintahan    Rabu 04 Maret 2026    01:59:48 WIBSUBANG – Suasana hangat penuh kebersamaan terasa di Aula BRIN Subang, Jalan KS Tubun, Selasa (3/3/2026). Di tengah momen Ramadan, Paguyuban Mitra Badan Gizi Nasional (BGN) atau Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Kabupaten Subang menggelar silaturahmi dan buka puasa bersama yang dirangkai dengan konsolidasi besar seluruh mitra dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta 30 Koordinator Kecamatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se-Kabupaten Subang.
Acara ini bukan sekadar pertemuan rutin. Di baliknya, tersimpan tekad besar untuk memastikan program strategis nasional itu benar-benar menyentuh masyarakat, sekaligus menjadi fondasi lahirnya generasi emas Indonesia 2045.
Ketua Paguyuban Mitra BGN Kabupaten Subang, Aceng Kudus, menyebut saat ini terdapat 220 dapur SPPG yang tersebar di Kabupaten Subang. Dari jumlah tersebut, 160 dapur telah aktif beroperasi melayani masyarakat.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur bisa berada di posisi yang membantu generasi muda. Ini tugas yang sangat terhormat. Fokus kita sekarang adalah bagaimana memanfaatkan dapur-dapur tersebut secara optimal untuk masyarakat Subang,” ujar Aceng.
Baginya, Program MBG tidak semata soal membagikan makanan bergizi. Lebih dari itu, program ini dirancang menjadi penggerak ekonomi kerakyatan.
“Presiden ingin program ini memutar ekonomi lokal. Tukang sayur dan UMKM harus bisa masuk sebagai pemasok. Jadi, ada kolaborasi ekonomi masyarakat di dalamnya. Jangan hanya melihat dari sisi negatifnya saja,” tegasnya.
Senada dengan itu, Sekretaris Paguyuban Mitra BGN Subang, Niko Rinaldo, menegaskan bahwa pertemuan ini merupakan bentuk komitmen bersama antara kepala dapur, mitra, dan perwakilan yayasan untuk menyatukan visi dan memperkuat layanan.
“Kegiatan ini adalah bentuk komitmen bagaimana pilar utama, yaitu Kepala Dapur, Mitra, dan Perwakilan Yayasan, mengoptimalkan layanan Program MBG. Sehingga optimasi layanan itu benar-benar bisa ditempuh,” ujarnya.
Dalam sesi sosialisasi, pembahasan teknis dan administratif menjadi fokus utama. Beberapa hal krusial yang disoroti antara lain mekanisme pengurusan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG), pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang ramah lingkungan, hingga penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai penjamin mutu makanan.
“Kami samina wa athona terhadap semua kebijakan, baik dari BGN maupun Pemerintah Daerah. Sinergi dengan seluruh stakeholder adalah kunci agar implementasi di lapangan tidak menyimpang dari aturan yang berlaku,” pungkas Niko.
Melalui komunikasi yang intensif dan konsolidasi yang solid, Program Makan Bergizi Gratis di Kabupaten Subang diharapkan tidak hanya tepat sasaran dan berkualitas dari sisi gizi, tetapi juga mampu menjadi model nasional dalam membangun ekosistem pangan yang sehat, legal, dan memberdayakan ekonomi lokal.
Di bulan suci ini, dari dapur-dapur sederhana di pelosok Subang, harapan tentang masa depan bangsa tengah dimasak dengan penuh kesungguhan.***Red Ahas


























