Jauh dari Pusat Kota, Anak-anak Rajadesa Ciamis Diajak Bijak Bersahabat dengan Gawai
Teknologi    Minggu 06 September 2026    03:12:45 WIBCIAMIS – Di tengah semakin dekatnya anak-anak dengan layar telepon seluler, pesan sederhana tentang kapan harus bermain gawai menjadi penting untuk dikenalkan sejak dini.
Hal itu yang dilakukan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Ciamis melalui program DWP Mengajar. Kali ini, edukasi tidak hanya menyasar sekolah yang berada di pusat kota, tetapi juga menjangkau anak-anak di wilayah pelosok.
Sekitar 40 anak usia 4 hingga 6 tahun di RA Ulil Albab 2, Dusun Cileueur, Desa Tanjungsukur, Kecamatan Rajadesa, mengikuti kegiatan bertema “Bijak Menggunakan Gawai”,.
Ketua DWP Diskominfo Kabupaten Ciamis, Erna Enda, bersama jajaran DWP hadir langsung menjadi narasumber. Kepala Diskominfo Kabupaten Ciamis, Enda Hidayat, beserta jajaran turut mendampingi kegiatan yang dikemas dengan suasana ceria dan ramah anak tersebut.
Di hadapan anak-anak, para narasumber tidak berbicara tentang bahaya teknologi dengan bahasa yang rumit. Mereka mengenalkan aturan sederhana yang mudah dipahami, mulai dari meminta izin kepada ayah dan bunda sebelum menggunakan HP hingga membatasi waktu menatap layar.
Anak-anak diajak memahami bahwa bermain gawai bukan sesuatu yang sepenuhnya dilarang. Namun, penggunaannya harus secukupnya dan tetap berada dalam pengawasan orang tua. Waktu bermain gawai pun disarankan sekitar 15 hingga 30 menit sehari.
Pesan tersebut menjadi penting karena penggunaan gawai tanpa pendampingan dapat membawa berbagai dampak bagi anak, mulai dari gangguan tidur, kelelahan mata, masalah postur tubuh, hingga risiko stres dan kecemasan. Lebih dari itu, anak juga berpotensi menemukan konten yang belum sesuai dengan usia mereka.
Karena itu, para siswa diajak melihat bahwa dunia bermain tidak hanya berada di balik layar. Berlari, menari, melompat, belajar bersama, dan bermain dengan teman sebaya justru menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang mereka.
Suasana pun semakin hidup ketika materi disampaikan menggunakan prinsip C.E.R.I.A dan metode 3M: Merasakan, Menghubungkan, dan Mempraktikkan.
Anak-anak terlihat antusias mengikuti permainan edukatif “Pilih yang Baik, Yuk!”. Melalui permainan tersebut, mereka belajar membedakan perilaku yang baik dan kurang baik ketika menggunakan gawai.
Tak berhenti pada permainan, para siswa juga diajak melakukan simulasi sederhana. Mereka mempraktikkan bagaimana cara meminta izin kepada orang tua sebelum meminjam HP. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan mewarnai gambar bertema penggunaan teknologi secara sehat.
Bagi anak-anak, kegiatan itu menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan. Sementara bagi orang tua dan guru, pesan yang disampaikan menjadi pengingat bahwa pendampingan terhadap anak di era digital tidak bisa dilakukan sendiri.
Kegiatan DWP Mengajar ditutup dengan komitmen bersama bertajuk “Aku Anak Cerdas Digital”.
Dengan penuh semangat, anak-anak berjanji untuk meminta izin sebelum menggunakan gawai, bermain sesuai waktu yang diperbolehkan, rajin belajar, serta lebih banyak bermain dan beraktivitas bersama teman.
Program tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pesan yang hanya diingat di ruang kelas. Guru dan orang tua diharapkan terus mengulang dan menerapkannya di rumah, sehingga kebiasaan menggunakan gawai secara sehat dapat tumbuh sejak anak masih kecil.
Sebab, di tengah derasnya perkembangan teknologi, menjadi anak cerdas digital bukan berarti paling lama menatap layar. Justru, anak yang cerdas adalah mereka yang tahu kapan waktunya menggunakan teknologi dan kapan waktunya menutup layar untuk kembali bermain, belajar, dan menikmati dunia nyata.***Red-Deden Supriadi























