Air Mata di Caringin Bogor, DVI Datangi Keluarga Pramugari Korban Tragedi Bulusaraung Maros
Peristiwa    Minggu 18 Januari 2026    21:01:16 WIBBOGOR -Suasana duka menyelimuti sebuah rumah sederhana di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Minggu (18/1), Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat mendatangi kediaman keluarga Esther Aprilita S, pramugari pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang menjadi korban kecelakaan di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Kedatangan tim DVI dilakukan untuk mengambil sampel DNA keluarga serta mengumpulkan data ante mortem, sebagai bagian dari proses identifikasi ilmiah korban. Langkah ini menjadi krusial mengingat kondisi lokasi kecelakaan berada di wilayah pegunungan dengan medan yang sulit dijangkau.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, membenarkan kegiatan tersebut. “Saat ini tim DVI Polda Jawa Barat berada di kediaman keluarga korban untuk mengambil data ante mortem dan sampel DNA pembanding,” ujarnya saat dikonfirmasi di Bandung.
Menurut Hendra, proses identifikasi membutuhkan ketelitian tinggi agar kepastian identitas korban dapat dipastikan secara akurat dan bertanggung jawab.
Sebelumnya, pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT dilaporkan hilang kontak saat menjalani penerbangan dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu (17/1) sekitar pukul 13.17 WITA. Pesawat membawa 11 orang dan lepas landas dari Yogyakarta pukul 09.08 WITA dengan estimasi tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar pukul 12.22 WITA.
Namun, satu menit setelah waktu kedatangan, pesawat sempat diinstruksikan oleh Air Traffic Control (ATC) Makassar Radar untuk melakukan intercept ILS runway 21 melalui titik Openg di ketinggian 5.300 kaki. Pesawat justru melewati jalur yang telah ditentukan dan kemudian hilang kontak di wilayah udara perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep.
Tim SAR gabungan kemudian menemukan serpihan pesawat di lereng Gunung Bulusaraung, menguatkan dugaan terjadinya kecelakaan fatal.
Kini, di tengah ketidakpastian, keluarga korban hanya bisa menunggu hasil proses ilmiah yang tengah berjalan. Tragedi ini kembali mengingatkan publik akan risiko besar yang dihadapi awak penerbangan—sebuah pengabdian yang kerap luput dari sorotan.
Doa dan empati terus mengalir bagi para korban. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan.***Abdullah




























