Dari Hutan ke Desa, Dedi Mulyadi Siapkan Tameng Nyawa Warga dari Gigitan Ular
Daerah    Selasa 20 Januari 2026    07:25:25 WIBSUBANG -Ancaman gigitan ular masih menjadi momok nyata bagi warga Jawa Barat, terutama mereka yang bermukim dan bekerja di kawasan pegunungan serta hutan. Menyadari risiko tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengambil langkah serius dengan menempatkan ketersediaan serum antibisa ular sebagai prioritas perlindungan kesehatan masyarakat.
Dalam pertemuan bersama jajaran PT Bio Farma di kediaman pribadinya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Senin (19/1/2026), Dedi—yang akrab disapa Kang Dedi—menegaskan bahwa karakter geografis Jawa Barat membuat kasus gigitan ular tak bisa dipandang sebelah mata, khususnya bagi warga desa yang menggantungkan hidup dari sawah dan kebun.
“Orang Sunda yang paling bahaya itu tiga. Pertama oray gibuk atau ular tanah, kedua oray welang atau weling, dan yang ketiga ular kobra,” ujar Dedi.
Ia menekankan pentingnya peran Bio Farma sebagai tulang punggung industri vaksin nasional untuk memastikan produksi dan distribusi serum antibisa ular mencukupi kebutuhan Jawa Barat, bahkan hingga menjangkau pelosok desa.
Tak berhenti pada persoalan produksi, Dedi juga membeberkan strategi jangka panjang guna menjamin ketersediaan serum secara berkelanjutan. Salah satunya melalui pengembangan penangkaran dan peternakan ular sebagai sumber utama bisa untuk kebutuhan medis.
“Harus ada yang memelihara ular, menetaskan, dan menternakkan,” tegasnya.
Dalam upaya tersebut, Dedi secara khusus mengajak Panji Petualang, pegiat reptil nasional, untuk terlibat langsung sebagai mitra. Kolaborasi ini akan didukung melalui dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bio Farma, termasuk pengembangan fasilitas uji laboratorium.
“Panji kamu jadi salah satu mitra ya. Nanti disupport CSR Bio Farma untuk mengembangkan peternakan ular, termasuk kebutuhan uji laboratorium,” kata Dedi.
Ke depan, Dedi menargetkan setiap desa yang tergolong endemik kasus gigitan ular wajib memiliki stok serum antibisa. Menurutnya, ketersediaan serum di tingkat desa akan memangkas waktu penanganan medis dan secara signifikan menurunkan risiko kematian akibat keterlambatan pertolongan.
“Kita ingin di setiap desa yang sering ada gigitan ular, serum dan vaksin itu tersedia langsung di desa,” tandasnya.
Langkah ini pun menyita perhatian publik. Banyak pihak menilai kebijakan tersebut sebagai terobosan nyata perlindungan kesehatan berbasis kebutuhan lokal. Harapan pun tumbuh di kalangan warga desa, agar Jawa Barat benar-benar menjadi provinsi yang paling siap menghadapi ancaman gigitan ular—dari hutan hingga ke rumah-rumah penduduk.***Red Ah




























