Belajar dari Alam dan Sejarah, Sumedang Ajak Sekolah Keluar dari Sekat Kelas
Pendidikan    Selasa 20 Januari 2026    07:39:12 WIBSUMEDANG - Pemerintah Kabupaten Sumedang mendorong satuan pendidikan untuk memperluas ruang belajar peserta didik dengan memanfaatkan potensi alam dan budaya daerah. Taman Hutan Raya (Tahura) Gunung Palasari–Gunung Kunci serta Museum Prabu Geusan Ulun kini diarahkan menjadi laboratorium pembelajaran berbasis lingkungan dan kearifan lokal.
Dorongan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Bupati Sumedang Nomor 6 Tahun 2026 tentang Himbauan Pemanfaatan Tahura sebagai Sarana Pembelajaran Berbasis Lingkungan. Kebijakan ini sekaligus menjadi tindak lanjut Surat Edaran Gubernur Jawa Barat Nomor 45/PK.03.03/KESRA tentang 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Jawa Barat menuju terwujudnya Gapura Panca Waluya, serta mendukung implementasi Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dalam Kurikulum Merdeka.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan, proses belajar tidak semestinya dibatasi oleh dinding ruang kelas. Potensi daerah, baik alam maupun budaya, justru dapat menjadi sumber pembelajaran kontekstual yang kaya makna.
“Sumedang memiliki Tahura Gunung Palasari–Gunung Kunci sebagai laboratorium alam, sekaligus Museum Prabu Geusan Ulun yang sarat nilai sejarah dan budaya. Keduanya adalah ruang belajar yang hidup untuk menanamkan kepedulian lingkungan serta memperkuat identitas dan jati diri generasi muda,” ujar Dony. (19/01).
Menurutnya, pembelajaran berbasis lingkungan dan kearifan lokal sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menempatkan peserta didik sebagai subjek aktif. Dari proses mengenal alam, sejarah, dan budaya sendiri, karakter pelajar akan tumbuh secara utuh.
“Anak-anak perlu dekat dengan lingkungannya, memahami sejarahnya, dan mencintai budayanya. Dari sanalah akan lahir karakter Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur Singer,” tambahnya.
Dalam surat edaran tersebut, satuan pendidikan diimbau memanfaatkan Tahura Gunung Palasari–Gunung Kunci untuk pembelajaran luar kelas yang berfokus pada pengenalan kearifan lokal, konservasi lingkungan dan keanekaragaman hayati, pengelolaan sampah, serta penguatan karakter cinta alam.
Sementara itu, Museum Prabu Geusan Ulun diarahkan sebagai pusat pembelajaran sejarah, budaya, dan nilai-nilai perjuangan leluhur Sumedang yang relevan dengan pembentukan karakter pelajar masa kini.
Bupati Dony menekankan, seluruh kegiatan tersebut bukanlah wisata atau study tour, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang terintegrasi dengan kurikulum. Pelaksanaannya pun diminta dilakukan secara sederhana, terencana, dan tidak memberatkan peserta didik maupun orang tua.
“Ini adalah proses pendidikan, bukan rekreasi. Maka harus terukur, terencana, dan terintegrasi dengan kurikulum,” tegasnya.
Lebih lanjut, kepala satuan pendidikan diminta menyesuaikan pelaksanaan kegiatan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah serta berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait sesuai ketentuan yang berlaku.
Melalui kebijakan ini, Pemerintah Kabupaten Sumedang berharap dapat mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, berwawasan lingkungan, serta bangga terhadap sejarah dan budaya daerahnya.***Cece Ruhiyat




























