Saat Laut Tak Bersahabat, Istri Nelayan Subang Menjadi Penopang Hidup Keluarga
Daerah    Selasa 20 Januari 2026    19:36:10 WIBSUBANG - Musim angin barat kembali mengubah denyut kehidupan ribuan keluarga nelayan di pesisir Kabupaten Subang. Ombak tinggi dan cuaca ekstrem memaksa sekitar 1.500 nelayan kecil untuk menepi, meninggalkan laut yang selama ini menjadi sumber utama nafkah mereka.
Dinas Perikanan Kabupaten Subang secara resmi mengimbau para nelayan agar tidak melaut sementara waktu demi keselamatan jiwa. Imbauan itu disampaikan melalui grup WhatsApp nelayan serta Koperasi Unit Desa (KUD) di wilayah pesisir.
“Imbauan sudah kami sampaikan baik melalui grup WhatsApp maupun ke KUD-KUD tempat nelayan bernaung,” ujar Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Kabupaten Subang, Budi Rahman, Selasa (20/1/2025).
Dari sekitar 3.000 nelayan di Subang, separuh di antaranya memilih berhenti melaut. Mereka adalah nelayan kecil yang menggunakan kapal di bawah 5 Gross Tonnage (GT), armada yang sangat rentan tergulung ombak di penghujung musim angin barat.
“Kapal kecil sangat berisiko. Keselamatan jiwa menjadi pertimbangan utama,” kata Budi.
Sementara itu, sekitar 1.500 nelayan lainnya masih melaut dengan kapal berukuran di atas 10 GT. Meski relatif lebih aman, risiko tetap mengintai di tengah cuaca laut yang tak menentu.
Bagi nelayan yang memilih menepi, pemerintah daerah mendorong mereka untuk sementara beralih profesi. Ada yang menjadi pembudidaya ikan air payau, bekerja di pengolahan hasil perikanan, hingga menjadi buruh bangunan. Pola ini sejatinya sudah menjadi siklus tahunan bagi masyarakat pesisir Subang saat angin barat datang.
Namun, di balik dermaga yang sepi dan perahu yang terikat, ada cerita lain yang jarang disorot: peran para istri nelayan yang menjadi tulang punggung keluarga.
Wariyah (38), warga Kecamatan Blanakan, kini menghabiskan hari-harinya sebagai tukang ojek. Sudah sepekan terakhir ia menyusuri jalan-jalan kampung demi membawa pulang uang belanja.
“Saya ngojek dulu, yang penting dapur tetap ngebul,” ujarnya lirih.
Hal serupa dialami Juminten, warga Kecamatan Legon Kulon. Saat suaminya tak melaut, ia bekerja sebagai buruh cuci pakaian dari rumah ke rumah. Upahnya tak seberapa, tetapi cukup untuk bertahan hingga laut kembali bersahabat.
“Kalau angin barat begini, ya kami yang harus bergerak,” katanya.
Dinas Perikanan juga mengingatkan pentingnya kepesertaan asuransi nelayan sebagai perlindungan dari risiko kecelakaan, cacat, hingga kematian. Namun bagi banyak keluarga nelayan, keselamatan hari ini dan kebutuhan esok tetap menjadi perjuangan nyata yang harus dihadapi bersama.
Saat laut tak lagi ramah, para perempuan pesisir Subang membuktikan bahwa kekuatan keluarga tak hanya bertumpu pada mereka yang berlayar, tetapi juga pada mereka yang setia menjaga kehidupan tetap berjalan di darat.***Red/Ah




























