Hingga Menyentuh Atap: Derita Panjang Warga Karangligar di Tengah Ujian Banjir Ekstrem
Peristiwa    Selasa 20 Januari 2026    19:55:16 WIBKarawang -Sudah satu setengah bulan terakhir, warga Dusun Kampek, Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat, Kabupaten Karawang, hidup dalam kepungan banjir yang tak kunjung surut. Hingga Selasa (20/1/2026), ketinggian air masih bertahan di angka 3 hingga 4 meter, merendam permukiman warga hingga menyentuh atap rumah.
Sedikitnya 132 rumah terdampak, sementara 472 warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat maupun tenda darurat yang disiapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Aktivitas warga lumpuh, dan sebagian besar rumah kini tak lagi layak dihuni.
Ironisnya, banjir kali ini juga merendam rumah panggung program Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) yang sebelumnya digadang-gadang sebagai solusi jangka panjang bagi persoalan banjir kronis Karangligar.
Dari total 24 unit rumah panggung percontohan yang dibangun, sebanyak 14 unit kini terendam. Air bahkan masuk ke dalam rumah panggung dengan ketinggian mencapai 20 hingga 50 sentimeter.
“Untuk rumah panggung, air sudah masuk ke dalam. Sementara rumah biasa sudah terendam sampai atap,” ujar Guil, warga setempat.
Menurut Guil, banjir di Kampung Kampek telah berlangsung selama 46 hari, sejak 7 Desember 2025, dan nyaris tidak pernah benar-benar surut. Kondisi terparah terjadi dalam tiga hari terakhir, ketika ketinggian air mencapai sekitar 3,5 meter.
“Airnya sampai menyentuh atap rumah,” katanya.
Situasi tersebut memaksa warga meninggalkan rumah mereka. Sebagian mengungsi ke sanak saudara, sementara lainnya bertahan di tenda pengungsian yang disediakan pemerintah daerah.
Guil menjelaskan, rumah panggung yang dibangun dengan ketinggian tiang sekitar 3,2 meter ternyata tak mampu menahan banjir yang kini melampaui 3,5 meter. Padahal, kata dia, warga sempat mengusulkan agar tiang rumah dibuat lebih tinggi.
“Saya pernah mengusulkan tiang rumah panggung dibuat 3,5 meter, karena banjir di sini bisa lebih dari 3 meter. Tapi usulan itu ditolak pengembang,” ungkapnya.
Banjir ekstrem kali ini menjadi ujian nyata bagi konsep rumah panggung yang selama ini diproyeksikan sebagai solusi permanen banjir Karangligar. Air yang terus naik menunjukkan bahwa pendekatan tersebut belum sepenuhnya mampu menjawab persoalan di lapangan.
Kini warga berharap ada evaluasi menyeluruh dan solusi lanjutan yang lebih komprehensif. Sebab, banjir tak hanya menenggelamkan rumah konvensional, tetapi juga meruntuhkan harapan yang sempat disematkan pada rumah panggung.
“Kalau air setinggi ini terus terjadi, kami bingung harus bagaimana,” keluh warga.
Banjir Karangligar pun kembali menjadi sorotan publik, sekaligus mempertanyakan kesiapan dan ketepatan solusi yang ada dalam menghadapi banjir ekstrem yang terus berulang dari tahun ke tahun.***Red/Emn




























