Janji Palsu di Balik Program Gizi: Ketika Harapan Berujung Penipuan
Peristiwa    Jumat 23 Januari 2026    12:38:48 WIBBanjar-Niat baik untuk mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG) justru berujung pahit bagi sejumlah pihak. Dua anggota DPRD Kota Banjar, Hendrik Purnomo dan Eko Pradana Utama, diduga menjadi korban penipuan yang memanfaatkan harapan besar terhadap program strategis peningkatan gizi masyarakat tersebut.
Kasus ini bermula dari perkenalan keduanya dengan seorang pria berinisial I, yang mengaku memiliki akses langsung ke Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan penuh keyakinan, terduga pelaku menjanjikan kemudahan dalam penentuan titik pembangunan dapur MBG—sebuah fasilitas vital dalam mendukung distribusi makanan bergizi bagi masyarakat.
Namun, janji tinggal janji. Setelah sejumlah uang diserahkan, realisasi penentuan lokasi dapur MBG tak kunjung terjadi.
Penjabat Ketua Sementara DPRD Kota Banjar, Sutopo, membenarkan adanya peristiwa tersebut. Ia mengaku sempat menghadiri pertemuan dengan terduga pelaku, namun memilih bersikap hati-hati.
“Saya memang ikut pertemuan, tapi tidak ikut mentransfer uang karena masih ragu,” ujar Sutopo.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, nominal uang yang diserahkan para korban bervariasi, mulai dari Rp100 juta hingga Rp200 juta per orang. Tak hanya dari Kota Banjar, korban juga berasal dari Kabupaten Ciamis. Secara keseluruhan, jumlah korban mencapai 21 orang.
Merasa dirugikan dan tak mendapatkan kejelasan, para korban sempat mendatangi BGN pusat pada Januari 2026 untuk mengadukan persoalan tersebut. Sayangnya, upaya itu belum membuahkan hasil konkret, sementara terduga pelaku semakin sulit dihubungi.
Akhirnya, dengan pertimbangan hukum dan demi mendapatkan kepastian, para korban sepakat melaporkan kasus ini secara kolektif ke Polda Jawa Barat. Laporan tersebut menjadi langkah terakhir untuk mencari keadilan, sekaligus peringatan keras agar program-program nasional tidak dijadikan celah oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa besarnya antusiasme terhadap program sosial pemerintah harus tetap dibarengi kehati-hatian. Di balik semangat membantu masyarakat, selalu ada risiko yang mengintai ketika kepercayaan disalahgunakan.***Gugun




























