Usai Banjir, Warga Bekasi Diminta Lebih Peduli Kesehatan Tubuh dan Lingkungan
Kesehatan    Selasa 27 Januari 2026    01:00:43 WIBCIKARANG PUSAT – Ancaman penyakit kerap membayangi warga setelah banjir surut. Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai gangguan kesehatan yang berpotensi muncul pascabanjir.
Kepala Dinkes Kabupaten Bekasi, dr. Arief Kurnia, mengatakan bahwa penyakit pascabanjir umumnya mulai dirasakan sekitar satu pekan setelah air surut. Kondisi ini dipicu oleh paparan air kotor, lumpur, serta material lain yang terbawa banjir.
“Banjir tahun ini cukup besar, membawa lumpur dan berbagai material. Keluhan yang paling sering dialami warga antara lain infeksi saluran pernapasan atas seperti batuk, pilek, dan demam, kemudian diare, gangguan kulit seperti gatal-gatal dan dermatitis, hingga kelelahan yang menyebabkan pegal dan kelemahan otot,” ujar dr. Arief.
Di tengah musim penghujan yang masih berlangsung, Dinkes Kabupaten Bekasi terus mengingatkan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah utama mencegah penyakit pascabanjir. Upaya tersebut dinilai krusial untuk memutus rantai penularan penyakit di lingkungan masyarakat.
Sebagai bentuk pelayanan dan kesiapsiagaan, Dinkes telah menginstruksikan seluruh puskesmas untuk membentuk posko kesehatan, khususnya di wilayah terdampak banjir. Langkah ini bertujuan mendekatkan akses layanan kesehatan bagi warga yang membutuhkan.
“Kami mengimbau masyarakat yang terdampak banjir untuk menjaga kesehatan, memeriksakan diri ke posko kesehatan baik di puskesmas maupun di lokasi pengungsian, serta segera membersihkan rumah setelah banjir surut,” kata dr. Arief.
Ia mengungkapkan, keluhan batuk, pilek, dan penyakit kulit menjadi yang paling dominan pascabanjir. Oleh karena itu, masyarakat diminta menghindari berendam di air banjir serta menjaga kebersihan tubuh, terutama bagian kulit.
Terkait Demam Berdarah Dengue (DBD), dr. Arief menyebut hingga saat ini belum ditemukan laporan kasus di wilayah terdampak banjir. Menurutnya, DBD umumnya meningkat pada musim pancaroba.
“Namun demikian, upaya pencegahan tetap harus dilakukan. Masyarakat diimbau rutin menguras dan menutup tempat penampungan air serta mengubur barang-barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk,” ujarnya.
Apabila ditemukan kasus DBD di suatu wilayah, masyarakat diminta segera melapor ke puskesmas terdekat agar dapat dilakukan penanganan lanjutan, termasuk fogging terbatas sesuai prosedur.
Lebih lanjut, dr. Arief mengakui adanya peningkatan jumlah pasien dengan gangguan kesehatan di sejumlah rumah sakit selama musim hujan. Meski begitu, kondisi tersebut masih dapat ditangani dengan baik dan tidak termasuk kategori penyakit berbahaya.
Ia juga mengingatkan warga terdampak banjir untuk menjaga daya tahan tubuh dengan asupan makanan dan minuman yang cukup, terlebih bagi masyarakat yang sedang menjalankan ibadah puasa. Dinkes memastikan ketersediaan stok obat di seluruh puskesmas dan puskesmas pembantu (Pustu) dalam kondisi aman.
“Jika ada keluhan kesehatan, jangan ragu datang ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Meskipun tersedia layanan puskesmas keliling, peran aktif masyarakat untuk memeriksakan kesehatan sangat penting agar tidak terjadi komplikasi,” tegasnya.
Untuk kondisi kegawatdaruratan, masyarakat dapat menghubungi Call Center 119 PSC atau Call Center 112 dengan menekan tombol 2, terutama untuk kebutuhan evakuasi medis, kecelakaan, maupun persalinan darurat.***Samsudin




























