Bupati Kuningan: Pencak Silat Adalah Benteng Terakhir Budaya Bangsa
Pemerintahan    Kamis 29 Januari 2026    03:54:53 WIBKUNINGAN – Komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam menjaga warisan budaya bangsa kembali ditegaskan. Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., secara resmi membuka Konferensi Daerah (KONFERDA) Pemilihan Ketua DPD Persatuan Pencak Silat Indonesia (PPSI) Kabupaten Kuningan Periode 2026–2031, yang digelar di Ballroom Arya Kamuning, Lantai 3 Gedung Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan, Selasa (28/1/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan DPD PPSI Kabupaten Kuningan tersebut menjadi momentum strategis bagi insan pencak silat untuk menentukan kepemimpinan baru sekaligus merumuskan arah pembinaan pencak silat ke depan, di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.
Dalam sambutannya, Bupati Dian menyampaikan apresiasi kepada para tokoh, sesepuh, dan seluruh perwakilan paguron yang hadir. Ia menegaskan bahwa kecintaannya terhadap pencak silat tidak pernah pudar, bahkan memandang PPSI memiliki peran jauh melampaui sekadar organisasi olahraga.
“Bagi saya, PPSI bukan hanya organisasi bela diri, tetapi benteng terakhir pelestarian seni budaya bangsa. Tradisi tidak boleh dikelola secara tradisional. Kita butuh manajemen modern—program yang terukur, transparan, dan akuntabel,” tegasnya.
Bupati menyoroti tantangan besar yang dihadapi pencak silat saat ini, khususnya di tengah masifnya minat generasi muda terhadap olahraga bela diri modern seperti Muay Thai, tinju, hingga MMA. Menurutnya, PPSI Kuningan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa tercerabut dari akar tradisi yang menjadi jati dirinya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan nilai-nilai pencak silat dengan karakter masyarakat Kuningan yang dikenal sebagai tanah para ksatria dan pendekar. Simbol kuda dalam identitas daerah, menurutnya, sarat makna filosofis.
“Kuda Kuningan itu kecil-kecil tapi gesit, tangkas, lincah, dan pemberani. Hakikat seorang pendekar juga harus tercermin dalam pengelolaan PPSI—gesit dalam bergerak, berani mengambil keputusan, tangkas, dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Bupati Dian menekankan bahwa pemimpin PPSI ke depan harus hadir dengan dedikasi dan kecintaan yang tulus terhadap organisasi, bukan sekadar menjadikan jabatan sebagai posisi tawar. Organisasi, kata dia, hanya akan hidup jika pemimpinnya benar-benar menghidupkan program pembinaan.
Ia juga mendorong agar PPSI Kuningan menyusun program kerja yang realistis dan membumi, serta memperkuat pembinaan atlet melalui kegiatan rutin seperti festival dan kompetisi terstruktur (pasanggiri) secara berkala.
“Tanpa kompetisi rutin, atlet tidak punya alat ukur kemampuan. Lebih baik target kecil tetapi tercapai, daripada target besar hanya tinggal di atas kertas,” tambahnya.
Selain aspek pembinaan, Bupati melihat potensi besar pencak silat sebagai bagian dari pengembangan pariwisata budaya. Atraksi pencak silat, menurutnya, dapat ditampilkan secara rutin melalui kolaborasi dengan hotel dan pengelola destinasi wisata, sehingga memberi dampak ekonomi bagi para pesilat dan organisasi.
Ia juga mengingatkan pentingnya sinergi lintas sektor melalui konsep pentahelix, yakni kolaborasi antara pemerintah, swasta, masyarakat, akademisi, dan media, agar PPSI Kuningan semakin kuat, adaptif, dan berdaya saing.
Menutup sambutannya, Bupati Dian secara resmi membuka kegiatan KONFERDA sekaligus Pemilihan Ketua DPD PPSI Kabupaten Kuningan Periode 2026–2031, dengan harapan lahir kepemimpinan yang mampu menjaga marwah tradisi sekaligus menjawab tantangan zaman.***Ading Permana




























