Mahkota Binokasih Kembali Bersinar, Ribuan Warga Rayakan Jati Diri Sunda di Sumedang
Pemerintahan    Minggu 03 Mei 2026    20:03:05 WIBSumedang — Lautan manusia memadati ruas jalan di Kabupaten Sumedang, Sabtu (2/5/2026), saat Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda digelar dengan penuh khidmat dan semarak. Dari anak-anak hingga orang tua, masyarakat tumpah ruah menyaksikan prosesi budaya yang bukan sekadar perayaan, tetapi juga peneguhan identitas.
Kirab dipimpin langsung oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang menunggangi kuda, membawa Mahkota Binokasih—pusaka bersejarah peninggalan Kerajaan Sunda—yang menjadi simbol kebesaran dan kejayaan masa lalu. Kehadiran mahkota tersebut menjadi magnet utama, menghadirkan nuansa sakral sekaligus kebanggaan kolektif masyarakat Sunda.
Iring-iringan kirab turut diikuti Wakil Gubernur Erwan Setiawan, Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir, Wakil Bupati M. Fajar Aldila, jajaran Keraton Sumedang Larang, serta perwakilan dari 27 kabupaten/kota se-Jawa Barat yang menampilkan ragam kesenian khas daerah masing-masing.
Rute kirab dimulai dari Keraton Sumedang Larang dan berakhir di Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS). Setibanya di lokasi, panggung budaya seolah tak pernah sepi. Satu per satu daerah menampilkan atraksi seni, memperlihatkan kekayaan tradisi Tatar Sunda yang hidup dan terus berkembang di tengah masyarakat.
Kabupaten Sumedang sendiri menampilkan tari umbul, sebuah representasi semangat dan dinamika budaya lokal yang mengakar kuat. Penampilan ini menjadi simbol bahwa warisan leluhur bukan sekadar kenangan, melainkan energi yang terus menghidupi generasi hari ini.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan bahwa kirab budaya ini merupakan langkah nyata dalam menguatkan kembali jati diri masyarakat Sunda. Menurutnya, Mahkota Binokasih bukan hanya benda pusaka, tetapi juga pengingat akan nilai-nilai luhur yang harus terus dijaga.
“Kirab ini menjadi momentum untuk mengingat kembali siapa kita. Identitas sebagai masyarakat Sunda harus tetap hidup, salah satunya tercermin melalui Mahkota Binokasih yang ada di Sumedang,” ujarnya.
Tak hanya berdampak secara kultural, kegiatan ini juga menggeliatkan roda ekonomi masyarakat. Ribuan pengunjung yang hadir turut mendorong aktivitas pelaku usaha kecil dan sektor pariwisata lokal.
“Ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi juga memberi dampak ekonomi dan memperkenalkan potensi daerah,” tambah Dony.
Sementara itu, Gubernur Dedi Mulyadi menekankan pentingnya mengembalikan karisma Mahkota Binokasih sebagai simbol kebesaran budaya Sunda. Ia mengapresiasi semangat masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Sumedang yang dinilai konsisten menjaga warisan budaya.
“Antusiasme masyarakat hari ini menunjukkan bahwa budaya masih menjadi denyut nadi kehidupan. Ini harus terus dirawat dan dikembangkan,” kata Dedi.
Ia juga mendorong adanya evaluasi dan penataan yang lebih baik terhadap pengembangan seni daerah agar mampu tumbuh sebagai kekuatan budaya yang berkelanjutan.
Sebagai titik awal digelarnya Kirab Budaya Tatar Sunda, Sumedang memiliki makna historis yang kuat. Di wilayah inilah Mahkota Binokasih disimpan, menjadi saksi perjalanan panjang peradaban Sunda.
Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda pun tak sekadar menjadi tontonan. Ia hadir sebagai tuntunan mengajak masyarakat untuk kembali mengenal, mencintai, dan melestarikan warisan budaya sebagai identitas bersama yang tak lekang oleh waktu.***Red-Cece Ruhiyat


























