Jangan Kertapati Selalu Dikambing Hitamkan! Oleh Akun Anonim yang Tidak Bertanggung Jawab
Daerah    Sabtu 05 September 2026    15:31:03 WIBPALEMBANG – Suara keresahan datang dari sejumlah awak media di wilayah Kertapati, Palembang. Mereka menyerukan pentingnya keterbukaan dan tanggung jawab dalam menyampaikan informasi, terutama di tengah maraknya penggunaan akun anonim di media sosial.
Seruan tersebut disampaikan bersama oleh Semut Gatal Sumatera Selatan dan Media Center Jurnalis Kertapati (MC-JK). Mereka menegaskan, awak media yang bekerja di wilayah Kertapati tidak ingin terus-menerus menjadi sasaran tuduhan maupun isu negatif yang disampaikan tanpa identitas dan sumber yang jelas.
Pesan itu disampaikan dengan bahasa khas masyarakat setempat.
"Wong Kertapati dak pernah nak nyembunyike wajah, akun harus jelas."
Ungkapan tersebut menjadi penegasan bahwa para jurnalis di Kertapati memilih bekerja secara terbuka. Mereka menilai, setiap persoalan seharusnya disampaikan dengan identitas yang jelas sehingga pihak yang merasa dirugikan memiliki ruang untuk memberikan klarifikasi maupun hak jawab.
Keresahan juga muncul terkait dugaan penggunaan kembali unggahan milik sejumlah rekan media Kertapati oleh akun-akun yang tidak diketahui identitasnya. Unggahan tersebut kemudian disebarluaskan kembali tanpa sumber yang jelas, sehingga berpotensi menimbulkan kesan seolah-olah informasi tersebut berasal dari pihak atau media yang berada di Kertapati.
Kondisi itu dinilai dapat merugikan nama baik awak media sekaligus memicu kesalahpahaman di tengah masyarakat.
"Jangan mau main api kalau takut terbakar, jangan pakai sifat Belanda—mengadu domba itu sifat pengecut!" demikian seruan yang disampaikan dalam pernyataan tersebut.
Bagi awak media Kertapati, persoalan utamanya bukan sekadar siapa yang menyampaikan informasi, melainkan bagaimana informasi itu dipertanggungjawabkan. Mereka berharap ruang media sosial tidak digunakan untuk menyebarkan tuduhan, fitnah, ataupun narasi yang belum teruji kebenarannya.
Mereka juga mengingatkan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Kritik tetap diperlukan, tetapi idealnya disampaikan secara terbuka, berdasarkan fakta, serta memberikan kesempatan kepada pihak yang disebut untuk memberikan penjelasan.
"Kertapati bukan tempat membuang fitnah," menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam kampanye tersebut.
Awak media Kertapati berharap masyarakat tidak mudah menarik kesimpulan hanya berdasarkan unggahan dari akun yang tidak memiliki identitas jelas. Mereka mengajak publik untuk lebih kritis dalam memilah informasi, memeriksa sumber, serta tidak ikut menyebarluaskan konten yang belum dapat dipastikan kebenarannya.
Seruan itu pada akhirnya menjadi pengingat bersama bahwa pers dan media sosial memiliki ruang yang berbeda, namun sama-sama membawa konsekuensi ketika informasi disampaikan kepada publik.
Bagi para jurnalis Kertapati, tampil dengan nama dan identitas yang jelas bukan sekadar soal keberanian, tetapi juga bagian dari tanggung jawab dalam menjalankan profesi dan menjaga kepercayaan masyarakat.***Tim/Morry























