Menua Dalam Sunyi di Tanah Malang: Pak Iwan Bertahan Hidup di Rumah yang Nyaris Roboh
Peristiwa    Rabu 21 Januari 2026    10:00:36 WIBPalembang,-Infonusa-news.com-Di tengah geliat pembangunan Kota Palembang, masih terselip kisah pilu tentang kehidupan warga lanjut usia yang luput dari perhatian. Salah satunya dialami Iwan (68), seorang duda lansia yang kini menjalani hari-harinya dalam keterbatasan di kawasan Jalan Tanah Malang, RT 18 RW 04, Kelurahan Keramasan, Kecamatan Kertapati. Selasa (20/1/2026).
Sejak ditinggal wafat sang istri beberapa tahun lalu, Pak Iwan harus menanggung beban hidup seorang diri di usia senja. Kondisi fisiknya yang kini mengalami lumpuh selama kurang lebih satu tahun membuat langkahnya kian terbatas. Untuk sekadar berdiri dan berjalan, ia sudah tak lagi mampu.
Rumah yang ditempatinya pun jauh dari kata layak huni. Dinding papan tampak rapuh dan sebagian telah terlepas, sementara atap rumah nyaris ambruk. Setiap hujan deras turun, air dengan mudah masuk dan membasahi seluruh ruangan. Pada malam hari, dingin menusuk tanpa ampun, memaksa Pak Iwan bertahan dengan segala keterbatasan. Perabot rumah tangga yang ada pun sangat sederhana dan tampak berserakan di sudut ruangan.
Kondisi ekonomi keluarga semakin berat karena salah satu anak Pak Iwan mengalami gangguan mental sehingga tidak dapat membantu menopang kehidupan. Dari enam orang anak yang dimilikinya, dua anak perempuan telah berkeluarga, sementara empat anak laki-laki bekerja sebagai tukang ojek dengan penghasilan pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga.
“Kami tinggal di rumah ini seadanya. Dinding sudah banyak yang lepas. Kalau hujan deras, air masuk semua ke dalam. Saya hanya bisa pasrah,” ujar Pak Iwan lirih dengan mata berkaca-kaca.
Keprihatinan juga dirasakan oleh warga sekitar. Ketua RW 04 Kelurahan Keramasan, Tazili, menyebutkan bahwa pihak lingkungan telah berupaya berkoordinasi untuk membantu kondisi Pak Iwan.
Sementara itu, Diki selaku Ketua RT 18 menjelaskan bahwa kondisi Pak Iwan sudah lama menjadi perhatian warga. Selain menderita lumpuh, Pak Iwan juga masih memasak menggunakan kayu bakar dan tungku sederhana untuk kebutuhan sehari-hari.
“Beliau sudah lansia, sakit lumpuh sudah sekitar satu tahun. Rumahnya memang sudah tidak layak huni, dinding rapuh, atap bocor, dan hampir roboh. Kondisi ini tentu sangat tidak layak bagi seorang lanjut usia,” ungkap Diki.
Pihak RT bersama warga dan tokoh masyarakat setempat telah berembuk dan berencana segera mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah agar rumah Pak Iwan dapat diperbaiki. Mereka berharap ada perhatian khusus sehingga Pak Iwan bisa menjalani sisa hidupnya dengan lebih aman dan layak.
Selain itu, warga juga mengajak para dermawan dan masyarakat yang memiliki rezeki lebih untuk turut membantu meringankan beban Pak Iwan. Uluran tangan sekecil apa pun dinilai sangat berarti.
Kisah Pak Iwan menjadi potret nyata bahwa di balik hiruk-pikuk kota, masih banyak lansia yang berjuang dalam keterbatasan. Sebuah pengingat bagi semua pihak bahwa kepedulian sosial adalah jembatan harapan bagi mereka yang menua dalam sunyi.**Morry




























