Panen yang Tenggelam, Harapan Petani Telar Jaya Ikut Terendam
Daerah    Rabu 21 Januari 2026    09:13:01 WIBKarawang- Air masih menggenang di hamparan sawah Telar Jaya, Desa Dongkal, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang. Seharusnya, akhir Januari menjadi waktu paling sibuk dan paling ditunggu para petani. Padi yang menguning siap dipanen, hasil kerja berbulan-bulan akhirnya bisa dituai. Namun tahun ini, yang datang justru banjir, menenggelamkan bukan hanya batang padi, tetapi juga harapan.
Genangan air setinggi betis orang dewasa menutup petak-petak sawah. Malai padi yang semestinya berdiri tegak kini rebah, sebagian terendam air kecokelatan. Mesin panen tak bisa masuk. Buruh tani hanya bisa memandang dari pematang, menakar kerugian yang kian nyata dari hari ke hari.
Ujang (52), petani asal Telar Jaya, berdiri di tepi sawahnya dengan wajah letih. Tangannya menggenggam batang padi yang mulai membusuk. Ia tak banyak bicara, namun sorot matanya menyimpan kegelisahan panjang.
“Ini sudah mau panen, tinggal hitungan hari. Tapi air datang terus, enggak surut-surut. Kalau begini, paling cuma bisa diselamatkan sedikit, itu pun kualitasnya jelek,” ujar Ujang lirih. (20/01/2026).
Menurutnya, banjir kali ini datang di saat paling buruk. Modal tanam sudah dikeluarkan: benih, pupuk, obat hama, hingga ongkos tenaga. Semua digadaikan pada satu harapan, panen yang layak. Kini, harapan itu terancam lenyap.
“Modal bisa sampai belasan juta. Kalau gagal panen, kami mau makan apa, mau nanam lagi pakai apa,” lanjutnya. Ujang mengaku sebagian petani terpaksa memanen lebih cepat, meski padi belum cukup tua, demi menyelamatkan sisa hasil yang ada.
Banjir di wilayah Pedes bukan peristiwa baru. Setiap musim hujan, petani sudah akrab dengan luapan air. Namun intensitas dan lamanya genangan tahun ini dinilai lebih parah. Saluran air tak mampu menampung debit, sementara hujan turun hampir tanpa jeda.
Di tengah genangan, suara petani nyaris tenggelam. Mereka berharap ada perhatian lebih dari pemerintah daerah, mulai dari normalisasi saluran air, perbaikan irigasi, hingga bantuan pascabanjir. Bagi petani kecil seperti Ujang, bantuan bukan sekadar angka, melainkan penopang agar bisa kembali menanam.
“Petani itu cuma pengin satu, sawahnya bisa ditanami dan dipanen dengan tenang. Kalau tiap panen begini terus, lama-lama kami bisa menyerah,” ucapnya.
Di Telar Jaya, padi yang tenggelam menjadi saksi betapa rapuhnya nasib petani di hadapan alam. Panen yang seharusnya menjadi perayaan berubah menjadi kecemasan. Dan selama air belum surut, cerita tentang harapan yang terendam ini masih akan terus berulang.***Red/Emn




























