Di Antara Dua Sungai, Warga Karangligar Bertahan di Negeri yang Saban Tahun Tenggelam
Peristiwa    Rabu 21 Januari 2026    09:45:26 WIBKarawang -Banjir kembali merendam Kampung Kampek, Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang. Permukiman yang terletak di tengah himpitan dua aliran sungai besar—Citarum dan Cibeet—itu sekali lagi harus menanggung beban air yang meluap, menenggelamkan rumah, jalan, hingga fasilitas umum. Bagi warga setempat, peristiwa ini bukanlah kabar baru. Ia datang nyaris rutin, dari tahun ke tahun, seolah menjadi takdir yang terus berulang.
Air berwarna kecokelatan menggenangi lorong-lorong sempit kampung. Aktivitas warga lumpuh. Anak-anak terpaksa belajar di rumah, sebagian di antaranya mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Perabotan rumah tangga diangkat seadanya, sementara yang tak sempat diselamatkan dibiarkan terendam. Di beberapa sudut, perahu karet menjadi satu-satunya sarana mobilitas.
“Kalau hujan deras di hulu, kami sudah siap-siap. Tinggal menunggu air naik,” ujar Darki (53), warga Kampung Kampek, saat ditemui Selasa, 20 Januari 2026. Nada suaranya datar, menyimpan kelelahan yang menahun. Ia mengaku sudah puluhan tahun hidup berdampingan dengan banjir. “Setiap tahun sama saja. Surut sebentar, lalu datang lagi.”
Menurut Darki, banjir bukan hanya merusak rumah, tetapi juga menggerus harapan. Sawah tak bisa digarap, pekerjaan serabutan terhenti, dan biaya hidup kian membengkak. “Kami ini seperti hidup di antara dua ancaman. Sungai Citarum di satu sisi, Cibeet di sisi lain. Kalau dua-duanya naik, kampung ini jadi mangkuk,” katanya.
Karangligar memang dikenal sebagai salah satu wilayah paling rawan banjir di Karawang. Posisi geografis yang rendah, ditambah sedimentasi sungai dan curah hujan tinggi, membuat air mudah meluap. Warga menyebut kampung mereka sebagai “pulau sementara terisolasi saat banjir datang, terhubung kembali ketika air surut.
Pemerintah daerah telah berulang kali menjanjikan penanganan, mulai dari normalisasi sungai hingga pembangunan tanggul. Namun bagi warga, solusi itu terasa belum menyentuh akar masalah. “Kami tidak butuh janji tiap musim hujan. Kami butuh kepastian supaya anak cucu kami tidak terus hidup begini,” ucap Darki.
Di tengah keterbatasan, solidaritas warga menjadi penopang utama. Dapur umum swadaya didirikan, warga saling membantu mengevakuasi lansia dan anak-anak. Harapan tetap menyala, meski sering kali diuji oleh genangan yang tak kunjung usai.
Banjir di Karangligar bukan sekadar peristiwa alam. Ia adalah cerita tentang ketahanan, tentang warga yang bertahan di antara dua sungai besar, menunggu hari ketika kampung mereka tak lagi menjadi langganan banjir, dan kehidupan bisa berjalan tanpa harus selalu bersiap menghadapi air.***Emn




























