Mahasiswa UNSIKA Turun ke Desa, Digitalisasi Karawang Dimulai dari Akar Rumput
Pendidikan    Jumat 27 Februari 2026    23:35:16 WIBKarawang - Transformasi digital tak lagi identik dengan gedung-gedung tinggi dan kawasan industri. Di Kabupaten Karawang, perubahan itu justru digerakkan dari balai desa dan ruang-ruang pelayanan publik paling dasar.
Fakultas Ilmu Komputer (Fasilkom) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) bersama Relawan TIK Jawa Barat meluncurkan Program Magang Berdampak, sebuah inisiatif kolaboratif untuk mempercepat digitalisasi desa secara terukur dan berkelanjutan.
Sebanyak 35 mahasiswa dari Program Studi Informatika dan Sistem Informasi diterjunkan ke 16 desa di sejumlah kecamatan di Karawang. Setiap desa didampingi dua mahasiswa dan satu dosen pembimbing, memastikan program berjalan selaras dengan capaian akademik sekaligus menjawab kebutuhan riil pemerintah desa.
Program ini berada di bawah koordinasi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Karawang, serta didukung Badan Perencanaan Pembangunan Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida), Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus), serta Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Karawang.
Berbeda dari pendekatan seremonial, program ini berbasis luaran. Mahasiswa tidak sekadar melakukan observasi, melainkan menghasilkan sistem yang dapat dimanfaatkan desa secara berkelanjutan.
Kegiatan utama mencakup pemetaan Indeks Digital Masyarakat (IDM), digitalisasi profil dan potensi desa, hingga pengembangan serta pemeliharaan website desa dengan domain desa.id.
Langkah tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang mendorong pengelolaan sistem informasi desa sebagai instrumen transparansi dan peningkatan kualitas pelayanan publik.
Tak berhenti pada administrasi, mahasiswa juga mendata potensi UMKM desa, membantu digitalisasi promosi produk lokal, serta menginisiasi perpustakaan desa berbasis digital. Edukasi literasi digital bagi masyarakat dan pelajar turut diberikan, mulai dari kecakapan digital, etika digital, budaya digital, hingga keamanan digital.
Kampus Hadir untuk Pembangunan Daerah
Dekan Fasilkom UNSIKA, Dr. Oman Komarudin, S.Si., M.Kom, menyebut program ini sebagai integrasi nyata antara dunia akademik dan pembangunan daerah.
“Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi menghasilkan sistem dan model implementasi digitalisasi desa yang terukur. Ini kontribusi konkret kampus terhadap transformasi digital daerah,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).
Rektor UNSIKA, Prof. Dr. H. Ade Maman Suherman, S.H., M.Sc., menegaskan keterlibatan mahasiswa di desa merupakan bagian dari pembangunan berbasis kolaborasi dan selaras dengan arah kebijakan nasional pendidikan tinggi.
Menurutnya, program ini mendukung kebijakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) yang mendorong kampus berdampak dan memperkuat peran perguruan tinggi di tengah masyarakat.
“Kampus tidak boleh menjadi menara gading. Melalui program ini, mahasiswa belajar langsung dari masyarakat sekaligus membantu membangun tata kelola desa berbasis data dan teknologi. Ini bagian dari implementasi kebijakan agar perguruan tinggi hadir memberi solusi nyata bagi pembangunan,” kata Ade Maman.
Kepala Disarpus Karawang, Wahidin, menilai digitalisasi perpustakaan desa menjadi langkah strategis memperluas akses pengetahuan masyarakat. “Literasi informasi harus tumbuh dari desa. Digitalisasi perpustakaan akan mendorong budaya literasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang PPKD DPMD Karawang, Iyus Ruswanti, menekankan bahwa digitalisasi desa bukan sekadar membuat laman daring. “Yang utama adalah memastikan data, pelayanan publik, dan transparansi berjalan lebih efektif melalui sistem informasi,” katanya.
Kepala Bidang Aplikasi dan Informatika Diskominfo Karawang, Arif Setiawan, menyebut keterlibatan mahasiswa membantu pemetaan kesiapan digital desa sekaligus memperkuat ekosistem satu data desa yang terintegrasi.
Di sisi lain, Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Disparpora Karawang, Adithya, menilai digitalisasi membuka peluang promosi potensi desa secara lebih luas. “Banyak desa memiliki potensi wisata dan ekonomi kreatif yang belum terekspos optimal. Melalui digitalisasi profil desa dan penguatan konten digital, potensi tersebut dapat dipromosikan secara profesional,” ujarnya.
Program Magang Berdampak berlangsung selama empat bulan, Februari hingga Juni 2026, dan dikonversi hingga 20 SKS melalui skema magang mandiri berbasis capaian pembelajaran.
Di tengah arus percepatan transformasi digital nasional, langkah yang dimulai dari desa-desa di Karawang ini menunjukkan satu hal: perubahan besar bisa lahir dari ruang-ruang kecil. Ketika kampus, relawan, dan pemerintah daerah bersinergi, digitalisasi bukan lagi wacana, melainkan gerakan nyata dari desa untuk Indonesia.***Red Emn




























