Masjid yang Menjaga Pangandaran dari Luka Tsunami
Dunia Islam    Senin 02 Maret 2026    23:26:05 WIBPANGANDARAN – (2/3/2026)-Di jantung kota pesisir Pangandaran, Masjid Besar Al Istiqomah berdiri seperti penjaga zaman. Granitnya bukan sekadar batu, melainkan memori yang dipadatkan doa yang membeku dalam arsitektur. Orang datang untuk salat, beristirahat, atau sekadar menunggu azan. Namun bagi warga, masjid ini lebih dari rumah ibadah; ia adalah penanda selamat.
Tahun 2006, ketika tsunami menyapu pesisir selatan Jawa, air asin menjelma kabar duka yang berlari lebih cepat dari suara sirene. Warga berhamburan meninggalkan bibir pantai, menenteng anak, menggenggam harap yang tersisa. Masjid yang berdiri sekitar 1,8 kilometer dari garis laut itu mendadak menjadi mercusuar keselamatan.
Halamannya sesak oleh langkah tergesa, doa yang terpotong, dan tatapan yang menggantung antara hidup dan kehilangan.
“Masjid ini menjadi saksi bisu ketegangan dan ketakutan warga. Meski jaraknya sekitar 1,8 kilometer dari pantai, tempat ini terbukti aman dari jangkauan gelombang tsunami sehingga menjadi area penyelamatan yang luas,” kenang Kiai Majid Murdiansah.
Lantai dua bangunan berubah menjadi ruang perlindungan darurat. Di bagian belakang, yang kini menjadi area wudu, air pernah mengalir bukan hanya untuk bersuci, tetapi juga untuk memandikan jenazah. Beberapa korban bahkan sempat disemayamkan dalam peti kemas milik Susi Pudjiastuti sebelum dimakamkan. Dalam satu tarikan napas sejarah, masjid ini beralih rupa: dari rumah ibadah menjadi rumah duka, lalu menjelma lagi sebagai rumah harapan.
Namun kisahnya tak bermula pada bencana.
Akar sejarahnya menembus tahun 1974, ketika lahan seluas lebih dari 5.000 meter persegi diwakafkan sepenuhnya untuk kepentingan umat oleh keluarga orang tua Susi Pudjiastuti. H. Ahmad Karlan dan Hj. Suwuh Lasminah meletakkan fondasi bukan hanya dari semen dan batu, tetapi dari niat yang melampaui usia mereka sendiri. Pembangunan masjid kala itu berada di bawah naungan Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Sejak itu, Al Istiqomah tumbuh bersama denyut kota menguat saat badai datang, meneduhkan ketika musim ramai wisata tiba.
Berdiri berdampingan dengan Bundaran Marlin Pangandaran, masjid ini menjadi penanda tak tertulis bahwa seseorang telah tiba di Pangandaran. Ia adalah wajah pertama yang menyambut wisatawan, sekaligus pelukan terakhir bagi mereka yang hendak pulang. Letaknya di jalur utama menjadikannya titik transit tempat orang melepas lelah setelah perjalanan panjang, atau menenangkan diri sebelum kembali menantang jalanan.
Kini, setiap Ramadan, masjid itu kembali bergetar oleh lantunan tadarus. Anak-anak duduk bersaf, remaja menghafal ayat, para jamaah menundukkan kepala dalam tafakur. Di bawah asuhan Ustaz Al Imron Rosyadi, Al Istiqomah bukan sekadar bangunan. Ia adalah candradimuka pariwisata Pangandaran kawah tempat karakter ditempa, tempat iman dan identitas kota saling memantulkan cahaya.
Di kota yang hidup dari ombak dan wisata, Masjid Besar Al Istiqomah mengajarkan satu hal: bahwa yang paling kokoh bukanlah dindingnya, melainkan ingatan kolektif warganya untuk tetap berdiri, seberapa pun tinggi gelombang pernah datang.***Doni Saputra




























