474 Tahun Desa Cipedes, Merawat Warisan Leluhur untuk Menyambut Masa Depan
Pemerintahan    Senin 07 September 2026    17:00:38 WIBKUNINGAN – Usia 474 tahun bukan sekadar angka bagi warga Desa Cipedes, Kecamatan Ciniru, Kabupaten Kuningan. Di balik perjalanan panjang itu, tersimpan sejarah, perjuangan para pendahulu, sekaligus semangat warga untuk menjaga desa tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Semangat tersebut terasa dalam peringatan milangkala Desa Cipedes ke-474 yang digelar Minggu (6/9/2026). Doa bersama dan pagelaran wayang golek menjadi bagian dari syukuran yang sekaligus mengajak masyarakat melihat kembali perjalanan desa dan menyiapkan langkah untuk masa depan.
Bagi pemerintah desa dan masyarakat, milangkala tahun ini bukan hanya perayaan tahunan. Momentum tersebut menjadi ruang untuk bersyukur, memanjatkan doa bagi keselamatan dan keberkahan, mengenang jasa para sesepuh perintis desa, sekaligus melakukan introspeksi terhadap perjalanan pemerintahan dan pembangunan.
Filosofi Sunda “hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke” menjadi pengingat bahwa masa kini tidak pernah terlepas dari masa lalu. Apa yang dinikmati generasi sekarang merupakan hasil dari fondasi yang dibangun oleh mereka yang telah lebih dahulu menjaga dan membangun Cipedes.
Puncak perayaan diisi dengan helaran wayang golek. Kesenian tradisional tersebut tidak hanya dipandang sebagai hiburan, tetapi juga bagian dari upaya ngamumule budaya Sunda yang diwariskan para leluhur.
Di balik tokoh dan cerita yang dimainkan, wayang golek menyimpan pesan tentang kehidupan, budi pekerti, watak manusia, hingga nilai moral dan keagamaan. Karena itu, kesenian tersebut diharapkan tetap menjadi tontonan sekaligus tuntunan bagi generasi muda.
Bupati Kuningan, Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., yang hadir langsung dalam peringatan tersebut, mengapresiasi ketahanan sosial masyarakat Cipedes yang mampu menjaga kehidupan desa selama lebih dari empat abad.
Menurutnya, kekompakan dan kepedulian masyarakat menjadi modal penting yang membuat Desa Cipedes mampu bertahan dan terus berkembang hingga saat ini.
“Milangkala bukan sekadar momen untuk mengenang sejarah, tetapi makna terpenting dari acara ini adalah meningkatkan kecintaan kita terhadap desa, diiringi introspeksi, refleksi, dan evaluasi sejauh mana penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan memberi manfaat nyata,” ujar Dian.
Ia menegaskan, kemajuan sebuah desa tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang dikucurkan pemerintah. Lebih dari itu, kekuatan gotong royong dan keswadayaan masyarakat menjadi modal sosial yang tidak kalah penting.
Semangat tersebut diharapkan terus menjadi kekuatan Desa Cipedes dalam menjalankan berbagai program prioritas, mulai dari pendidikan, kesehatan, infrastruktur, hingga penguatan ekonomi kerakyatan.
Memasuki usia 474 tahun, Cipedes juga ingin memastikan perjalanan panjang sejarahnya tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Desa ini bertekad menyiapkan generasi muda yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa tercerabut dari akar budayanya.
Nilai-nilai kearifan lokal Sunda melalui filosofi Panca Waluya—cageur, bageur, bener, pinter, dan singer—diharapkan menjadi bekal karakter bagi generasi penerus.
Dengan tubuh dan jiwa yang sehat, perilaku yang baik, sikap yang benar, kecerdasan, serta kemampuan beradaptasi, generasi muda Cipedes diharapkan mampu melanjutkan estafet pembangunan desa.
Sebab, bagi Desa Cipedes, merayakan usia bukan hanya tentang menengok sejauh mana perjalanan telah ditempuh. Lebih penting dari itu, bagaimana sejarah dan kearifan para leluhur menjadi pijakan untuk melangkah lebih jauh.***Red-Ading Permana























