Karhutla Meningkat, Sumedang Perkuat Patroli dan Libatkan Warga Cegah Api
Daerah    Senin 07 September 2026    21:13:10 WIBSUMEDANG – Api yang muncul dari lahan kering kini menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Sumedang. Hingga awal September 2026, jumlah kebakaran di wilayah tersebut tercatat hampir dua kali lipat dibandingkan sepanjang tahun sebelumnya.
Kepala BPBD Sumedang Bambang Rianto mengatakan, sepanjang 2025 tercatat 104 kejadian kebakaran. Sementara hingga 6 September 2026, jumlahnya sudah mencapai 203 kejadian.
Dari jumlah tersebut, 143 merupakan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), sedangkan 60 kejadian lainnya terjadi di kawasan non-hutan.
“Artinya, terjadi peningkatan hampir 99 persen dibandingkan tahun 2025,” kata Bambang dalam Rapat Koordinasi Forkopimda Kabupaten Sumedang, Senin (7/9/2026).
Kenaikan tersebut membuat Pemkab Sumedang bersama TNI, Polri, BPBD, Perhutani, pemerintah kecamatan hingga desa memperkuat langkah pencegahan. Upaya tersebut dinilai penting karena kebakaran di lahan terbuka dapat dengan cepat meluas, terutama ketika kondisi lingkungan kering.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menegaskan, penanganan Karhutla tidak boleh menunggu api membesar. Pencegahan harus dilakukan sejak potensi kebakaran mulai terlihat.
Menurutnya, edukasi kepada masyarakat akan lebih digencarkan, terutama terkait bahaya membuang puntung rokok sembarangan maupun membakar lahan tanpa pengawasan.
“Kami akan lebih memasifkan edukasi kepada warga masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan dan membakar lahan sembarangan,” ujar Dony.
Selain edukasi, patroli akan diperkuat di sejumlah kawasan yang dinilai rawan. Kesiapan personel dan peralatan pemadaman juga menjadi perhatian agar api dapat ditangani sejak awal.
Kepolisian turut mengingatkan adanya sejumlah kejadian kebakaran di sekitar koridor Tol Cisumdawu. Dalam salah satu kejadian, petugas bahkan harus menangani beberapa titik api yang muncul di sekitar jalur tol.
Karena itu, Pemkab Sumedang akan berkoordinasi dengan pengelola jalan tol untuk memasang imbauan di sekitar gerbang tol. Pesannya sederhana, tetapi penting: masyarakat diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan.
Polres Sumedang juga menyoroti kebiasaan membakar sisa tanaman setelah panen. Aktivitas tersebut dinilai berisiko apabila dilakukan tanpa pengawasan, terlebih ketika kondisi lahan dan vegetasi sedang kering.
Masyarakat diminta memastikan api benar-benar padam, termasuk bara yang tersisa, sebelum meninggalkan lokasi pembakaran.
Dari unsur TNI, muncul usulan agar setiap desa, terutama wilayah yang sulit dijangkau mobil pemadam, memiliki alat pemadam api ringan (APAR) gendong.
Peralatan tersebut diharapkan dapat menjadi pertolongan pertama ketika api baru muncul. Dengan penanganan lebih cepat, kebakaran diharapkan tidak berkembang menjadi lebih besar.
Dony mengatakan seluruh kekuatan pemadam kebakaran, baik milik pemerintah daerah maupun instansi vertikal, harus dioptimalkan. Kecepatan koordinasi menjadi salah satu kunci agar api tidak semakin meluas.
“Damkar sudah disiapkan, baik milik Pemda maupun instansi vertikal. Setiap perusahaan juga diminta melakukan pemadaman jika terjadi, koordinasi dengan baik sehingga penanganannya bisa cepat,” katanya.
Bagi pemerintah daerah, meningkatnya kasus kebakaran bukan hanya soal banyaknya api yang harus dipadamkan. Lebih dari itu, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan membutuhkan kepedulian bersama.
Sebab, satu puntung rokok yang dibuang sembarangan atau satu pembakaran lahan yang luput dari pengawasan dapat menjadi awal dari persoalan yang lebih besar.***Red-Cece Ruhiyat























