Nyangku Panjalu, Saat Jejak Karuhun Kembali Dihidupkan di Tengah Masyarakat
Daerah    Senin 07 September 2026    21:38:04 WIBCIAMIS – Riuh masyarakat yang berkumpul di kawasan Situ Lengkong Panjalu, Kabupaten Ciamis, Senin (7/9/2026), bukan sekadar menyambut sebuah perhelatan budaya. Mereka datang untuk menyaksikan kembali tradisi Nyangku, warisan leluhur yang mempertemukan sejarah, budaya, dan nilai-nilai keislaman.
Upacara Adat Nyangku dan Festival Budaya Panjalu 2026 itu mengusung tema “Melalui Nyangku dan Festival Budaya Panjalu Kita Tingkatkan Pendalaman Nilai-Nilai Budaya dan Keislaman dalam Menelusuri Jejak Kebaikan Para Karuhun.”
Bagi masyarakat Panjalu, Nyangku bukan hanya tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya terdapat pesan tentang penghormatan terhadap sejarah, pelestarian kearifan lokal, silaturahmi, serta keteladanan terhadap kebaikan para leluhur.
Bupati Ciamis Herdiat Sunarya mengatakan, nilai utama dari Nyangku terletak pada bagaimana masyarakat mampu mengambil hikmah dari perjalanan para karuhun untuk kemudian diterapkan dalam kehidupan saat ini dan masa mendatang.
“Untuk menelusuri dan meneladani jejak kebaikan para karuhun, kemudian dijadikan pijakan dalam kehidupan masa kini dan masa yang akan datang,” ujar Herdiat.
Menurut dia, Nyangku merupakan warisan budaya luhur yang tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Panjalu dan Kabupaten Ciamis. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki tanggung jawab bersama untuk dilestarikan.
Nyangku juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2017. Karena itu, keberlangsungannya dinilai penting agar generasi berikutnya tetap mengenal sejarah dan nilai yang terkandung di balik tradisi tersebut.
“Tradisi ini bukan hanya milik masyarakat Panjalu dan Kabupaten Ciamis, tetapi telah menjadi bagian dari khasanah budaya bangsa yang wajib kita lestarikan dan wariskan kepada generasi yang akan datang,” katanya.
Rangkaian Nyangku diawali dengan tawasul. Prosesi kemudian berlanjut dengan persiapan di Bumi Alit hingga perjalanan menuju kawasan Situ Lengkong dan Nusa Gede.
Pusaka selanjutnya dibawa menuju panggung utama untuk mengikuti sejumlah rangkaian acara, mulai dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan, pedaran sejarah, hingga doa bersama.
Suasana semakin khidmat ketika prosesi Gelar Pusaka atau Ngaberesihan Pusaka digelar. Prosesi tersebut diiringi lantunan shalawat sebelum pusaka kembali dibawa menuju Bumi Alit dalam rangkaian Ngabrakeun.
Kehadiran tokoh adat, ulama, tokoh agama, tokoh masyarakat, unsur Forkopimda, jajaran Pemkab Ciamis, Yayasan Borosngora, serta masyarakat dan pengunjung membuat kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan berbagai unsur masyarakat.
Sambutan Yayasan Borosngora disampaikan Prof. Dr. H. Djohan Rochanda Wiradinata, sedangkan pedaran sejarah disampaikan Rd. Agus Gusnawan Cakradinata.
Herdiat turut menyampaikan apresiasi kepada panitia dan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Nyangku dan Festival Budaya Panjalu 2026.
Ia menilai kelancaran kegiatan tersebut menunjukkan masih kuatnya semangat kebersamaan dan gotong royong di tengah masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Ciamis, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran panitia yang telah bahu-membahu melaksanakan kegiatan ini,” ungkapnya.
Bagi Ciamis, Nyangku pada akhirnya bukan sekadar tentang mempertahankan sebuah prosesi adat. Lebih jauh, tradisi ini menjadi cara masyarakat merawat ingatan kolektif tentang sejarah sekaligus menghidupkan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.
Penghormatan terhadap sejarah, kecintaan terhadap budaya, kebersamaan, gotong royong, dan keteladanan menjadi pesan yang terus dibawa dari masa lalu ke kehidupan hari ini.
Dengan begitu, Nyangku tidak berhenti sebagai warisan yang dikenang. Ia terus hidup, tumbuh bersama masyarakat, dan menjadi jembatan yang menghubungkan generasi masa lalu dengan generasi Ciamis di masa depan.***Red-Aam Amira























