Siswa Bermasker, Jalan Disemprot: Bandung Bergerak Hadapi Abu Vulkanik Anak Krakatau
Pemerintahan    Senin 07 September 2026    22:19:39 WIBBANDUNG – Aktivitas Anak Krakatau yang memicu sebaran abu vulkanik membuat Pemerintah Kota Bandung meningkatkan kewaspadaan. Di tengah kondisi tersebut, pemerintah memilih langkah pencegahan agar aktivitas warga tetap berjalan tanpa mengabaikan risiko kesehatan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengimbau masyarakat tidak panik, tetapi tetap melindungi diri dari paparan abu vulkanik, terutama dengan menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
“Dari kemarin sudah kami keluarkan imbauan kepada masyarakat untuk tidak usah panik. Bagaimanapun juga abu vulkanik merupakan bagian dari kehidupan bangsa Indonesia yang berada di Ring of Fire,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (7/9/2026).
Perlindungan juga diarahkan kepada anak-anak sekolah. Pemkot Bandung meminta para siswa menggunakan masker sebagai langkah sederhana untuk mengurangi risiko menghirup abu vulkanik.
Farhan mengatakan, saat meninjau sejumlah sekolah, dirinya melihat siswa mulai mengenakan masker. Namun, persoalan tidak berhenti pada penggunaan masker.
Abu yang masih menempel di lingkungan sekolah setelah akhir pekan, kata dia, perlu segera dibersihkan agar tidak kembali beterbangan dan terhirup oleh siswa maupun warga sekolah.
“Sebarannya di ketinggian antara 10.000 sampai 15.000 kaki, atau sekitar 3 sampai 5 kilometer dari permukaan,” katanya.
Jalan Protokol Disemprot
Pemkot Bandung juga mengambil langkah di ruang publik. Sejumlah ruas jalan dengan aktivitas kendaraan dan pejalan kaki yang tinggi disemprot air untuk mencegah abu yang mengendap di permukaan kembali beterbangan.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung Sony Bachtiar mengatakan penyemprotan diprioritaskan di kawasan yang ramai dilalui masyarakat dan wisatawan.
“Hari ini kami melakukan penyemprotan di Jalan Asia Afrika, sepanjang Asia Afrika. Lalu di Jalan Ir. H. Juanda. Nanti malam kami lanjutkan ke Jalan Supratman sampai Purwakarta, kemudian Jalan Dipatiukur dan R. E. Martadinata,” ujar Sony.
Penyemprotan tidak hanya dilakukan pada badan jalan. Petugas juga menyasar trotoar, dedaunan, hingga pepohonan yang berpotensi menjadi tempat menempelnya abu.
“Ini untuk debu-debu yang ada di permukaan supaya tidak mengudara kembali. Yang ada di dedaunan, pohon-pohon, termasuk trotoar, akan kami semprot sehingga debunya tidak naik lagi,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, petugas menggunakan sumber air dari hidran maupun kolam retensi. Sony memastikan persediaan air untuk penyemprotan sejauh ini masih mencukupi.
Puskesmas Disiagakan
Dari sisi kesehatan, seluruh puskesmas dan fasilitas kesehatan di Kota Bandung telah diminta bersiaga menghadapi kemungkinan meningkatnya gangguan pernapasan.
Farhan menyebut infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menjadi salah satu risiko utama akibat paparan abu vulkanik.
“Puskesmas dan semua fasilitas kesehatan sudah siap siaga untuk ISPA karena memang risiko terbesarnya adalah ISPA,” ujarnya.
Ia menegaskan pelayanan kesehatan tetap berjalan. Fasilitas kesehatan tidak boleh menolak warga yang membutuhkan penanganan.
Pemkot Bandung juga akan mengecek ketersediaan masker di pasaran, terutama di toko modern dan fasilitas penjualan alat kesehatan. Pemeriksaan dilakukan untuk mengantisipasi penimbunan dan lonjakan harga.
“Kita akan pastikan jangan sampai ada penumpukan seperti awal-awal dulu. Saya juga akan cek stok di Dinkes,” kata Farhan.
Opsi pembagian masker gratis juga masih dipertimbangkan. Namun, pemerintah perlu menghitung ketersediaan stok sebelum melakukan pembelian dalam jumlah besar agar intervensi pemerintah tidak justru mendorong kenaikan harga di pasaran.
Transportasi Jadi Alternatif
Gangguan abu vulkanik juga berdampak pada mobilitas warga, khususnya penerbangan. Pemkot Bandung berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan untuk menambah layanan kereta api menuju arah timur maupun barat sesuai kebutuhan.
Farhan mengatakan sebagian calon penumpang yang gagal terbang dari Jakarta menuju sejumlah kota seperti Surabaya, Yogyakarta, dan Solo memilih menggunakan jalur darat melalui Bandung.
“Banyak yang dari Jakarta gagal terbang ke arah Surabaya, Jogja, Solo, kemudian naik bus ke Bandung dan dari Bandung mereka naik kereta api ke arah timur,” tuturnya.
Sementara itu, hingga sekitar pukul 13.00 WIB, penerbangan dari Bandung masih belum mendapat izin untuk kembali beroperasi.
Meski kondisi tersebut memengaruhi mobilitas, kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah Kota Bandung belum dialihkan ke pembelajaran jarak jauh (PJJ). Para siswa masih mengikuti pembelajaran tatap muka dengan menerapkan langkah perlindungan, termasuk menggunakan masker.
Pemkot Bandung memastikan perkembangan sebaran abu vulkanik dan kondisi penerbangan akan terus dipantau. Pemerintah berharap kewaspadaan dapat berjalan beriringan dengan aktivitas masyarakat, tanpa menimbulkan kepanikan***Laporan-Ayi Herlambang























