Melindungi Warga Desa dari Gigitan Ular, KDM Perintahkan Serum Antibisa Siaga hingga Pelosok Jabar
Pemerintahan    Rabu 21 Januari 2026    01:03:12 WIBSUBANG - Ancaman gigitan ular masih menjadi momok bagi warga Jawa Barat, khususnya mereka yang hidup dan bekerja di kawasan pegunungan, hutan, serta area persawahan. Menyadari risiko tersebut, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengambil langkah tegas dengan menginstruksikan kesiapsiagaan serum antibisa ular hingga ke tingkat desa.
Arahan itu disampaikan Kang Dedi Mulyadi (KDM) saat bertemu jajaran PT Bio Farma di kediaman pribadinya di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, Senin (19/1/2026). Dalam pertemuan tersebut, KDM menekankan bahwa perlindungan kesehatan warga desa harus menjadi prioritas utama pemerintah daerah.
Menurut KDM, kondisi geografis Jawa Barat yang didominasi wilayah pegunungan dan hutan lebat menjadikan risiko gigitan ular masih sangat tinggi, terutama bagi petani dan warga yang beraktivitas di kebun serta sawah.
“Orang Sunda itu paling berbahaya ada tiga jenis ular. Pertama oray gibuk atau ular tanah, kedua oray welang atau weling, dan ketiga ular kobra,” ujar KDM.
Atas dasar itu, ia mendorong Bio Farma sebagai tulang punggung industri vaksin nasional untuk memastikan ketersediaan serum antibisa ular tidak hanya di rumah sakit besar, tetapi juga menjangkau desa-desa endemik.
Tak berhenti pada distribusi, KDM juga menyiapkan strategi jangka panjang guna menjamin pasokan serum tetap berkelanjutan. Salah satunya melalui penangkaran dan peternakan ular sebagai sumber bahan baku bisa.
“Harus ada yang memelihara ular, menetaskan, dan menternakkan. Ini penting untuk kemandirian serum kita,” tegasnya.
Dalam program tersebut, KDM secara khusus menggandeng Panji Petualang, pegiat dan pemerhati reptil nasional, sebagai mitra strategis. Kolaborasi ini akan didukung melalui dana CSR Bio Farma, termasuk pengembangan fasilitas laboratorium pengujian.
“Panji, kamu jadi salah satu mitra ya. Nanti disupport CSR Bio Farma untuk mengembangkan peternakan ular, termasuk kebutuhan uji laboratorium,” kata Dedi.
Ke depan, KDM menargetkan setiap desa yang tergolong rawan gigitan ular wajib memiliki stok serum antibisa. Dengan demikian, penanganan medis dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus menunggu rujukan ke fasilitas kesehatan yang jauh.
“Kita ingin di desa-desa yang sering terjadi gigitan ular, serum itu tersedia langsung di desa,” tandasnya.
Kebijakan ini pun menyita perhatian publik. Jika terealisasi, Jawa Barat berpeluang menjadi provinsi paling siap dalam menghadapi ancaman gigitan ular, sekaligus memberi rasa aman bagi jutaan warga desa yang selama ini hidup berdampingan dengan alam liar.***Red/Ah




























